Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Agustus 2013

Ketika si Ganteng Hilang

Matahari bersinar cerah siang menjelang sore itu, menemani dengan hangat melewati pertengahan Ramadhan. Di gang yang tidak seberapa lebar itu –paling hanya muat dua motor bersisian- penghuninya sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing; tidur siang, mengobrol ringan, menonton tv, atau memepersiapkan hidangan berbuka sore nanti.

Di sebuah rumah mungil dengan 5 orang penghuni, kelima penghuninya juga sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Sang ayah memilih menghabiskan waktu siang dengan mengutak-atik motor kesayangannya di beranda rumah. Sang ibu, sibuk berlalu-lalang di dalam rumah, dapur-beranda, memasak makanan sambil menjemur pakaian. Si sulung perempuan yang berumur 10 tahun, asyik tertidur di atas kasurnya, lelap dalam dunia mimpi yang entah seperti apa. Si perempuan nomer dua sedang bermain bersama teman-temannya, memainkan apa saja, kelereng, bola, lompat karet, apa saja. Sementara si bungsu lelaki, yang paling ganteng di rumah ini dengan usia yang baru berbilang dua tahun, ikut-ikut menghabiskan waktu di beranda. Mulut kecilnya sesekali bertanya ini-itu pada sang ayah, dengan didominasi kata ‘apa’.

Siang mejelang sore itu, penghuni gang yang tidak seberapa lebar itu masih menikmati aktivitas masing-masing. Matahari yang bersinar tidak terlalu terik tidak bisa menghalangi tampak indah biru langit. Ditambah angin semilir yang berhembus melewati jendela-jendela yang terbuka, siang menjelang sore itu menjadi begitu nyaman untuk bersantai atau bermalas-malasan.

Kembali ke rumah mungil tadi, si sulung masih terlelap sambil memeluk guling yang panjangnya hanya kalah sedikit dari tinggi badannya. Sang ibu telah menyelesaikan pakaian yang harus dijemurnya, menjadikan pergerakannya kini hanya berbatas dapur. Sementara sang ayah entah masih melakukan apa pada motornya, ditemani segala macam kunci dan perkakas bengkel.

Matahari semakin condong ke barat. Meski belum memasuki waktu Ashar, suasana di gang yang tidak seberapa lebar itu sudah semakin sejuk. Sang ayah semakin terlarut dengan motornya. Si sulung belum memberikan tanda-tanda akan mengakhiri tidurnya. Si nomer dua semakin asyik bermain dengan teman-temannya di tepi gang. Sang ibu, entah pasal apa meninggalkan dapurnya menuju beranda rumah untuk menengok pakaian-pakaian yang sedang dijemur. Setelah membetulkan satu-dua posisi gantungan baju dan kain yang dijemur, sang ibu merasa ada yang kurang dari beranda rumah mereka. Aduhai, mana si ganteng kecil miliknya? Kenapa tak tampak batang hidungnya? Tentu saja, yang pertama ia lakukan adalah bertanya pada suaminya.

Rupanya sang ayah sudah terlalu larut bermain dengan motornya. Sang ayah lengah dan tidak lagi memerhatikan ke mana gantengnya melangkah. Maka ia pun bertanya pada si nomer dua, yang sedang bermain di tepi gang tak jauh dari rumah, barangkali ia melihat ke mana adik gantengnya atau malah mungkin ikut bermain bersamanya. Tapi jawabannya adalah tidak.

Matahari semakin condong ke barat, rasa-rasanya hampir pukul tiga. Tapi tidak, belum sesore itu. Sang ayah mulai bertanya pada tetangga-tetangga di kanan-kiri rumahnya. Kepanikan mulai tersulut di sepanjang gang buntu yang hanya 300 meteran itu. Sang ibu mulai menangis karena ganteng kecilnya ternyata tak ditemukan di sepanjang gang. Sekejap, gang yang lebarnya tak seberapa itu menjadi ramai. Orang-orang menghentikan aktivitasnya, mencari tahu apa yang terjadi, kemudian ikut membantu mencari. Si nomer dua pun menghentikan permainannya, ikut tersedu bersama sang ibu yang sudah begitu paniknya.

Berita hilangnya ganteng kecil ayah sudah menyebar ke luar gang dengan cepat dari mulut ke mulut. Tetangga yang mencari tahu dan membantu mencari pun semakin banyak. Sang ayah, dibantu tetangga-tetangga, mencari keluar gang yang lebarnya tidak seberapa itu, menuju gang lain yang lebih lebar hingga tiba di jalan besar. Namun, setelah habis ditelusuri hingga ke jalan tempat mobil berlalu-lalang, si ganteng kecil ternyata tidak ditemukan. Dengan langkah gontai, sang ayah kembali ke rumah mungil dan memberi tahu istrinya. Beberapa tetangga masih meneruskan mencari, dan bertanya-tanya pada warga sekitar.

Matahari semakin condong ke barat. Pukul tiga sore, meski adzan Ashar belum berkumandang. Saat itulah, entah siapa yang melontarkan, muncul isu bahwa si ganteng ayah dan ibu telah diculik seseorang. Bagaimanalah, situasi bertambah buruk saja. Sang ibu tak hentinya menangis, makin payah mendengar kemungkinan gantengnya yang baru dua tahun diculik seseorang. Si nomer dua juga telah pecah tangisnya, entah mengerti atau tidak, bocah delapan tahun itu memeluk sang ibu. Atas usulan dari seorang tetangga, sang ayah bermaksud untuk melapor ke polisi terdekat.

Ditemani beberapa orang tetangga, sang ayah akan berangkat ke kantor polisi saat tiba-tiba datang seseorang sambil berlari-lari. Alhamdulillah, orang itu membawa kabar baik rupanya. Ganteng ayah dan ibu sudah ditemukan, ia ada di rumah kerabat. Maka tanpa menunggu satu detik, sang ayah langsung bergegas menuju rumah kerabat tersebut.

Rumah kerabat itu terletak tidak terlalu jauh dari rumah mungil ayah dan ibu. Sang ayah memang tidak mencari gantengnya samapi ke sana karena tak terpikir bahwa ganteng dua tahun itu bisa sampai ke sana. Bagaimanalah, jalan yang dilalui untuk menuju rumah kerabat belum berupa jalan beton, melainkan masih berupa tanah merah yang becek saat hujan. Terlebih terdapat satu dua tanjakan dan selokan kecil. Rumah kerabat juga merupakan sebuah rumah yang mungil, lebih tradisional dari rumah mungil ayah dan ibu. Di depan rumah kerabat masih terhampar lapangan yang luas, cukup untuk anak-anak bermain dan berbagi tempat bersama para ayam dan bebek yang juga suka berlarian.

Matahari semakin condong ke berat. Sudah lewat dari pukul tiga. Sesampainya di rumah kerabat yang lebih ramai dari biasanya akibat berita hilangnya ganteng kecil ayah dan ibu, sang ayah menemukan gantengnya tengah duduk beristirahat di beranda rumah kerabat. Si kerabat menjelaskan, ganteng kecil ayah kelelahan habis bermain, mengejar bebek ke sana ke mari. Owalah, si ganteng yang menyulut kepanikan di sepanjang gang rupanya habis bermain bersama bebek. Lihat wajahnya, wajah seorang bocah dua tahun yang begitu riang meski kelelahan, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Mana pula ia mengerti kalau orang-orang dari tadi sibuk mencarinya.

Seketika itu, hilang rasa panik sang ayah yang sudah menggunung. Sang ayah menggendong ganteng kecilnya, mengajaknya pulang ke rumah mungil, bertemu sang ibu yang jauh lebih banyak menyimpan gunungan panik. Ketika itu pula si ganteng dua tahun berceloteh riang pada ayahnya, “bebek banyaaak, aku kejar-kejar tadi! Nanti aku tangkep lagi ya?” yang hanya dibalas dengan tawa oleh sang ayah.

Ketika itu pula si ganteng dua tahun berceloteh riang pada ayahnya, “bebek banyaaak, aku kejar-kejar tadi! Nanti aku tangkep lagi ya?” yang hanya dibalas dengan tawa oleh sang ayah.

Sesampainya sang ayah di rumah mungil, sang ibu langsung memeluk si ganteng kecil sambil mulutnya tak henti mengucap syukur. Matanya masih berlinang air mata yang belum habis-habis. Si ganteng kecil yang dipeluk seperti itu hanya bisa menatap terheran-heran, lantas bertanya pada sang ibu tetap dengan wajahnya yang menggemaskan. Sang ibu hanya menjawab dengan gelengan.

Matahari semakin condong ke barat. Adzan Ashar akhirnya berkumandang. Satu per satu tetangga yang berkerumun di rumah mungil ayah dan ibu mengundurkan diri. Sejuk kembali terasa di sepanjang gang yang luasnya tak seberapa itu, dibawa oleh angin. Satu dua terdengar seruan lega, lega bahwa si ganteng kecil ayah dan ibu tidak benar-benar diculik.

Semua penghuni gang kembali menyibukkan diri dengan aktivitas masing-masing; menunaikan sholat Ashar, mandi, hingga persiapan berbuka puasa. Termasuk sang ibu yang kembali melanjutkan masakannya yang terabaikan sebentar di dapur. Sang ayah nampaknya tidak berselera lagi mengutak-atik motornya, jadi ia hanya menyelesaikan pekerjaannya, lantas membereskan perkakas. Si nomer dua urung melanjutkan permainannya yang terhenti, lebih memilih bercanda-canda di dalam rumah dengan adik gantengnya yang habis ‘menghilang’ itu.

Sepertinya ada yang tertinggal dalam potongan cerita ini bukan? Lihat, si sulung akhirnya terbangun dari tidur siang nyenyaknya. Ia mengerjapkan mata, menggeliat, lalu menguap panjang, berusaha mengusir sisa kantuknya. Ia lantas menuruni ranjang tempatnya tertidur dan keluar dari kamar. Melihat dua adiknya sedang bercanda-canda di lantai yang terbuat dari keramik putih, ia pun turut serta. Sampai sang ayah menyuruh mereka sholat Ashar, barulah candaan mereka terhenti. Si sulung tidak mengetahui sama sekali kepanikan besar apa yang baru saja hadir di rumah mungil ayah dan ibu.

Matahari semakin condong ke barat. Sedikit lagi hingga waktu yang dinantikan untuk berbuka puasa tiba. Warna langit sudah semakin tembaga. Lingkaran emas besar yang bersiap tenggelam di cakrawala tidak bisa terlihat dari gang yang lebarnya tidak seberapa itu. Hingga adzan Maghrib berkumandang, si sulung tetap tidak tahu bahwa adik gantengnya sempat ‘menghilang’ tadi siang. Dalam kepanikan, tak ada penghuni rumah mungil yang ingat bahwa dirinya masih lelap tertidur di kamar dan membangunkannya. Hingga dua hari kemudian, saat seorang tetannga bertanya padanya bagaimana adik gantengnya ditemukan, barulah ia tahu bahwa adiknya pernah ‘menghilang’. Dan itulah aku, si sulung yang tertidur sangat nyenyak sehinga tidak tahu apa-apa sampai cerita tentang adik gantengnya yang menghilang diceritakan kepadanya.. (-___-)

Jakarta, 24 Agustus 2013
Diceritakan kembali dari kisah nyata, dengan beberapa penyesuaian 

Kamis, 25 Juli 2013

Dulu

Selamat datang di era millennium! Pada masa ini, segala sesuatunya sudah terbilang mudah. Tidak perlu bersusah-susah teriak atau berlari-lari memanggil seseorang yang jauh di sana, kan ada yang namanya Handphone. Tinggal tekan tombolnya, dan kau pun terhubung dengan orang yang dimaksud. Apalah arti sebuah selat kecil yang memisahkan pulau Jawa dengan Madura, sudah ada jembatan besar nan kokoh sepanjang kira-kira 5 km  yang menghubungkannya. Tak perlu lagi repot-repot menumpang kapal untuk menyebrang. Komunikasi lintas negara bahkan benua pun menjadi sangat mudah dengan kehadiran ‘mahluk’ yang disebut ‘internet’.

Hoi, ternyata soal-soal sepele seperti makanan juga semakin mudah diperoleh. Kalau ingin memakan benda panjang keriting dari tepung terigu yang disebut mie, maka sudah tidak perlu lagi repot-repot menguleni adonan tepung terigu dan menarik-nariknya. Sudah ada yang namanya ‘mie instan’ di era ini. Bahkan benda-benda lain dengan embel-embel instan pun mulai bermuculan, seperti pop corn, bubur, pudding, bahkan si vla yang senantiasa menemani pudding. Boleh jadi nanti bisa ditemukan pizza instan, tinggal masukkan ke dalam benda ajaib bernama 'microwave', tunggu 3 menit, dan Ting! pizza lezat siap dihidangkan. who knows?

Ah, hebat sekali zaman ini bukan? Apalagi dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang pesat laksana rudal yang ditembakkan dengan kecepatan penuh. Semoga tidak perlu ada yang namanya Perang Dunia III. Karena tidak terbayangkan bukan, amunisi seperti apa yang akan digunakan dalam perang? Rudal dan bom atom pun mungkin sudah kalah seru, tergantikan oleh virus mematikan yang menyebar dan dalam sekejap menghabisi satu negara.

Sayangnya, aku tidak tahu, apakah lantas kemajuan teknologi itu menambah kearifan yang kita miliki pada Ibu Alam atau hanya menambah rasa tidak puas berkepanjangan. Aku tidak tahu, apakah lantas kemajuan teknologi menghilangkan harga dari sebuah kejujuran atau malah menjual mahal kata menang. Oi, jangan-jangan aku yang mengoceh begini justru sebenarnya ‘tidak tahu apa-apa’?

Sebenarnya yang meresahkanku adalah tentang kekayaan alam yang makin sedikit ini. Kalau aku mendengar mamaku bercerita tentang masa kecilnya, yang berkecamuk hanyalah rasa iri. Katanya, “Dulu waktu Mama masih kecil, kalau mau masak sayur apapun ga perlu beli. Tinggal nyari aja di kebon trus di masak deh. Buah juga sama. Kalau lagi main di kebon tuh kenyang, Nel, bisa mungutin buah trus langsung dimakan.” Aduhai, mana pernah aku bermain pada tanah luas berisi sayur-mayur dan buah-buahan begitu (paling di Mekarsari). Kebun-kebun itu sekarang sudah berganti, menjadi rumah-rumah yan dibangun berjejer rapi. Mencari rumah dengan kebun yang luas pun sudah terbilang sulit di kawasan Jakarta yang padat penduduk ini.

Yang terjadi pada hewan-hewan di hutan sana juga sama saja. Dulu, boleh jadi Indonesia memiliki tiga jenis harimau yang berbeda, Harimau Jawa, Harimau Sumatera, dan Harimau Bali. Sekarang? Jangan ditanya, tinggal satu spesies di Jawa ini yang masih ada dengan jumlah populasi yang tidak seberapa. Aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk melihat ketiganya secara langsung dan mengenali perbedaannya. Yang tinggal hanyalah bacaan pada buku teks, internet, serta ‘omongan’ para peneliti terdahulu. Mungkin harimau-harimau yang dulu bebas berlari itu sekarang sudah menjelma menjadi hiasan rumah, tas, sepatu, atau mantel hangat.

Aku jadi bertanya-tanya, apa aku juga akan menceritakan hal yang serupa pada anak-cucuku kelak? Hari ini boleh jadi aku menceritakan keindahan Pulau Condong di Lampung Selatan kepada kalian dengan mata berbinar-binar. Pasirnya yang putih, air lautnya yang bening, ikan-ikan kecil yang bermain di pinggiran pantai, bintang ular laut yang sibuk berputar, timun laut yang asik menggeliat.. Kira-kira itu semua akan bertahan sampai kapan? Jangan-jangan aku akan menambahkan banyak kata ‘dulu’ itu dalam ceritaku, “Dulu, waktu Mama masih SMA, Pulau Condong itu indak sekali, kak…”? Atau jangan-jangan lagi, anak-anakku bahkan tidak punya kesempatan untuk melihat betapa indah lorengnya harimau? Ugh, membayangkannya saja mengerikan.


Ah, hanya sebuah pemikiran yang ingin kubagikan…

MPKT


“Belajar itu tidak selalu saklek ada di kelas, tapi di mana pun, bahkan dari sebuah hiburan yang tepat” -Aku-

Sayangnya, yang ingin kuceritakan di sini adalah sebuah pelajaran di kelas. Adalah MPKT (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi) yang menginspirasi, haha. MPKT merupakan mata kuliah yang aku dapatkan saat menjalankan dua semester pertama kehidupanku sebagai mahasiswa Universitas Indonesia. Ada dua macam MPKT yang didapatkan, yaitu MPKT A (sosial-humaniora) dan MPKT B (teknologi, sains, dan kesehatan). Bukan main, bobot yang dibawa kedua MPKT tersebut ialah 6 sks untuk masing-masingnya.

Meski membawa bobot sks yang cukup banyak, 12 kalau ditotalkan, sayangnya MPKT masih sering dianggap sebagai pelajaran yang gabut, abstrak, dll. Memang sih, sebagian besar (atau seluruhnya?) kelas MPKT diisi dengan membuat rangkuman, peta konsep, borang, diskusi kelompok, dan presentasi yang sedikit membuat bosan. Tapi untukku, mata kuliah ini keren sekali!

Pada MPKT A, yang sedikit banyak mirp dengan pelajaran kewarganegaraan, dipelajari ialah hal-hal yang berkaitan dengan bidang sosial dan humaniora. Mulai dari otak manusia yang terkecil, karakter, kepribadian, individu, kelompok, masyarakat, budaya, sampai yang terbesar dari kesatuan-kesatuan dan membentuk bangsan dan negara Indonesia. Sedangkan pada MPKT B, hal-hal yang dipelajari lebih bersifat eksak dan merupakan ilmu pengetahuan alam. Di antaranya ialah siklus hidrologi, daya dukung bumi, keanekaragaman hayati, mutasi, statistik, sistem tata ruang perkotaan, sampai segala hal tentang banjir. Kedua MPKT tersebut tentu saja difokuskan mempelajari segala aspek yang berkaitan dengan keadaan Indonesia, baik masyarakat maupun keadaan alamnya.

Berangkat dari segala pemahaman yang aku dapatkan selama belajar MPKT, Indonesia itu memang sangat amat keren sekali. Lebih, lebih, lebih, dan jauh lebih keren dari yang aku tau selama ini. Mahasuci Allah yang telah mendesain Indonesia sebegitu rupa sehingga tidak hanya kaya pada sumber daya alamnya, tetapi juga sumber daya manusia. Hoi, di mana lagi bisa kita temukan negara yang seperti Indonesia?

Sayang disayang, yah kubicarakan lagi-lagi, kadang kearifan yang sejatinya dimiliki manusia semakin berkurang, baik dalam interaksi kepada Tuhan, kepada alam, dan kepada sesamanya. Aku tidak bilang kau tidak arif, tentu saja tidak. Masih banyak ‘seseorang’ yang peduli terhadap banyak hal. Aku juga tidak bilang aku ini termasuk yang peduli, hanya berusaha saja menjadi peduli, hehe..


Yah intinya, banyak pake banget pelajaran yang dapat diambil dari MPKT ini. Walau terkadang emang rumit, abstrak, membosankan, tapi kalau ditilik dari sisi lain ternyata MPKT ini juga sangat bermanfaat. Walau dulu sewaktu kecil aku juga pernah berpikir, “apalah belajar pkn ini? Sudah abstrak, tak ada parameter yang pasti” tapi ternyata sangat bermanfaat loh. Seengganya, semoga efek dari MPKT ini sesuai dengan apa yang disusun, dirancang, dan diharapkan tim dosen MPKT, yaitu mencetak generasi unggul yang peka terhadap sekitar, baik kepada Tuhan, alam, dan sesama manusia.Well, mari cintai Indonesia! 

Sabtu, 25 Agustus 2012

Perahu Kertas

Kemarin, saya pergi ke Blok M dengan dua tujuan : (satu) nonton Perahu Kertas dan (dua) ke Gramed bat beli berbagai kebutuhan ospek *yang ini plis banget*. Tapi karena perginya ga sendiri, bareng Indah dan Rahma, tujuannya jadi nambah satu yaitu nyari sepatu pentofel buat Indah yang mau ospek *lagi-lagi ospek*.. -____-

***

tiket nonton

Kugy dan Keenan

novel

Perahu Kertas itu merupakan sebuah film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Dewi “Dee” Lestari. Saya pertama kali baca novelnya itu waktu kelas XI (minjem di perpusIC) dan garagara suka banget akhirnya sampe beli sendiri. Tapi sayangnya itu novel ga kembali dari ‘pengembaraannya’ alias dipinjem sampe wisuda menjelang. Hadehh.. –“

Perahu Kertas menceritakan tentang sepasang anak manusia yang namanya Kugy dan Keenan. Sejak awal keliatan deh kalau mereka tuh sebenernya saling suka. Ya gimana ya, nyaman dan lengkap gitu dengan keberadaan satu sama lain. Tapi yak arena keadaannya belum memungkinkan jadinya ga ada yang bilang juga. Akhirnya keadaan juga yang membuat mereka terpisah pulau dan saling ga ketemu. Dalam masa perpisahan itu *ceilah* masing-masing dari keduanya merangkai ceritanya sendiri, Kugy ketemu Remi dan Keenan ketemu Luh De. Yah meskipun pada akhirnya Keenan dan Kugy ketemu lagi.. begitu aja lah sinopsisnya. Kalo mau lengkap ya baca sendiri.. :p

Novel Perahu Kertas sendiri meruapakan novel yang asik banget, di mana penggambaran suasananya jelas dan membawa pembaca turut menyelami kejadian yang ada di dalam cerita. Kelebihan dari membaca novel daripada menonton film adalah kita bisa membiarkan imajinasi kita terbang sebebasnya dan ga dibatasi.
Film Perahu Kertas dibagi menjadi dua bagian, bagian duanya belum keluar. Ya orang bagian pertamanya aja baru banget. Agak ga asik sih sebenernya nonton filmnya ga kelar. Tapi dengan kaya gitu, cerita di film jadi berjalan pelan-pelan, mendalami setiap scenenya. Ga kaya film adaptasi novel lain yang seolah terburu-buru banget. Bagus deh filmnya, worth to wait nih bagian duanya! J

***

Trus selesai nonton, kita bertiga pindah lokasi. Yang tadinya nonton di Blok M Square ke Blok M Plaza buat nyari sepatu. Mampir dulu juga sih makan di D’Cost. Ga perlu diceritain kali yaa makannya gimana.. :p
Selesai semua acara di Blok M Plaza, kita pindah lagi ke Gramedia yang tempatnya di seberang Blok M Square. Ya bolak-balik gitu deh. Dan karena sepatunya belom ketemu, abis itu kita ke Blok M Mall dan Alhamdulillah, dapet juga itu sepatu pentofel yang polos dan ga pake hak. Kita baru pulang abis sholat Maghrib, sekitar jem setengah 7an gitu. Dan saya baru sampe rumah jam setengah 8. Udah cape-cape mengunjungi seluruh Blok M, abis itu langsung diajak lebaran ke rumah sodara lagi… What a day!

Indah, Me, and Rahma

x_x

Blok M Square dari terminal jalur 4


Minggu, 01 Januari 2012

Tahun BarU (Bakar Uang)



abang : nel, ini namanya bukan taun baru tau..
saya : lah terus?
abang : taun bakar duit!

weits! ade saya yang masih SD aja ngerti.. -____-

harusnya sih, yang pada lebih gede bisa mengerti juga. tapi yah tampaknya... begitulah!
Sepertinya tahun depan kita masih perlu banyak introspeksi..


semoga jadi lebih baik, saya, anda, kita, Indonesia, dan Dunia!!

Rabu, 28 Desember 2011

Daftar ke NTU

 Sebelumnya, gue sama sekali ga kepikiran utnuk daftar di NTU, Nanyang Technological University yang ada di Singapura. Bukannya apa, gue rasanya ga pede aja dengan nilainilai yang tercetak di rapot gue. kayanya kalo diliatliat gue bukan anak jurusan IPA, tapi agama!


Tapi ternyata akhirnya gue daftar juga ke universitas ini, meskipun agak ga niat gitu sihh.. bayangin aja, closing date buat apply tuh hari kamis tanggal 15 Des, sedangkan gue baru daftar hari senin tanggal 12nya, kurang ga niat apa coba? Udah gitu baru hari rabunya bayar via online, ckckck..

Yah kaya yang gue bilang sebelumnya kalo awalnya gue emang sama sekali ga pengen daftar ntu. Lantas kenapa akirnya gue daftar? Kekuatan itu muncul gitu aja waktu Bapak bilang ke gue mending gue daftar aja. Yaudah abis dari itu gue jadi berkeinginan kuat untuk daftar..

Gue sadar kok, gue sepenuhnya sadar kalo gue bukan apaapa untuk sok berani daftar NTU. Tapi yahh namanya juga ikhtiar. Seengganya kalo emang gue ga diterima atau bahkan ga dipanggil tes sama sekali, gue tau kalo itu bukan karena gue ga berusaha. . .

Japan in Dreams

Talking about this country, everybody should be knew what it is. Japan known as an industrial country or maybe you know the other things, such as kimono, sumo, kimigayo, ikebana, tanabata festival, sakura, mount fuji, etc..
Japan's Flag
Remembering that Japan is so faaar away from Jakarta, it's a difficult thing for me to reach it. Even though i really really want.. i want to see many things with my own eyes and visit many interesting places..
i want to see mount fuji
i want to visit many temples
i want to wear yukata
i want to eat sushi
i want to arrange flowers (ikebana)
i want to know how beautiful sakura is
i want to feel how amazing summer festival is
yes i want them all..

Mount Fuji

Japan's Map 

Sakura

Yukata
If i might make a wish, i would say. "i wish i could go to Japan".. it's not as simple as it's writing, i know..

Selasa, 06 September 2011

Ke Planetarium Lewat Mana ya?

uoooo uooo! kalo ngomongin tementemen kelasan gue di MTsN1, kaga ada abisnya dah..
SERU BANGET! ♥ putihbiru..
alhamdulillah sampe sekarang pun kita masih sering maen bareng, kumpulkumpul, jalanjalan, yaa.. kaya tadi itu deh... 

jadi kan tadi anakanak cowo pada maen futsal tuh. trus abis men futsal di PLANET FUTSAL Kuningan, kita jalanjalan tuh. naek motor jalanjalannya, ada 7 motor! (asikasik konvoi :D) pertamanya kan bingung mau ke mana, trus Luki usul ke Planetarium aja. yaudah, jalan deh tu kita..

jreeng! ternyata ga ada yang tau jalan ke sana coba! -.-"
yaudah kita sotoy-sotoyan dah tuhh..
garagara pada nyolot jalannya yang mana, akhirnya kepisah (ga sengaja alias salah jalan) jadi tiga tim. ckckck

di jalanan, tim yang gue ikutin, berkalikali nanya ama orang, "Pak, ke Planetarium lewat mana ya?" wkwkwk. untung yang ditanya pada baik tuh. makasih ya para bapak dan ibu! :)
tapi alhamdulillah deh akhirnya nyampe juga di PLANETARIUM, Taman Ismail Marzuki.

pas di sana kata tementemen gue, "ahh padahal tadi tinggal lurus belok kanan tuh.." dan berbagai komentar sejenis. nyolotnyolotan deh siapa yang pendapatnya tadi bener -.-"
dibilang gitu gue mah iyaiya aja, padahal gue ga ngerti! ahaha. beneran deh, gue kayanya bukan orang yang cepet hafal jalan. apalagi mutermuter kaya tadi.. ;)

udah masuk, di depan loket, ga ada yang mau ngantri (cape deh).
akhirnya luki berbaik hati mau ngantri buat kita (makasih Luki! :D)
yaudah yang lain pada sholat Ashar tuh. abis udah pada sholat, ada sms dari Luki yang mnegatakan bahwa satu orang hanya dapat membeli maksimal 6 tiket! TIDAK! yaudah si Faiz ama Billy ke sana deh tuh. eh ternyata udah ga bisa ngantri lagi, abis tiketnya. (bukan rezeki kita kawan..)

jadi kan yang dapet tiket luki doang tuh dan cuma 6. kita bingung, gimana dong? jual aja? sapa yang mau? "ada yang masuk aja deh," usul siapa gitu. tapi karena pada solider, jadi ga ada yang mau.. :)
akhirnya ada juga deh 4 orang doang yang masuk, Nofal, Billy, Arif, ama Juki. (haha :p)
sisanya, Gue, Indah, Mira, Rahma, Faiz, Luki, Hanif, Iki, Bati, dan Faris nyari makan deh tuh. ada yang makan nasi goreng (gue, indah, mira, rahma, iki, luki, faris) dan tiga orang sisanya (hanif, faiz, bati) ga tau makan apaan. kata bati si, "makan nasi lah!" ga mungkin makan batu si emang! (oke guys gue ga tau, kalian makan apa? :p)

keliatan qo pada kelaperan x)
 abis makan, kita fotofoto deh tuh di depan TIM. kasian banget yang di dalem ga ikutan! (peace ya..)


seneng ya? :) 
yak setelah tementemen yang di dalem keluar, kita pun pulang. eh ga ding, yang pulang mah gue, yang lain pada ke rumah Hana makanmakan garagara hana ulang tahun! (met ultah Hana! :))

dan begitulah kumpul dan jalanjalan kita hari ini.
besokbesok lagi yaa kawan! besok saya balik ke IC dulu.. ^_^
noh Planetariumnya
it's such an amazing day, guys! ^o^

Senin, 05 September 2011

Dikira Adiknya Mama!

Jreng jreng!
Jadi ceritanya tadi gue nemenin si mama ke pasar. yaudah tuh, kita bertiga, gue, mama, sama ade yang paling kecil, berangkat ke pasar. belanja-belanja, singkat cerita sampailah di tempat abang-abang kelapa parut yang jualan kelapa (iyalah, masa jualan baju!).

lagi beli kelapa parut, eh si abangnya nanya..

abang : mpok, ini adenya mpok?

seketika gue terkesiap! siapa maksudnya nih abang?

mama : anak saya ini

abang : oh abis persis banget si mpok, kaya pinang dibelah dua

jreng jreng jreeeng!
apa banget deh si abang, namanya anaknya wajarlah kalo mirip. klo gue mirip tetangga ntar malah repot! :p

jadi, ini salah siapa? masa gue dikira adenya mama gue sih..
si mama yang kaya anak muda apa guenya yang bertampang tua ya?
kayanya emang si mama deh yang kaya anak muda! gue kan ya gini-gini aja.. heheh XD

Kamis, 01 September 2011

ternyata kita saudara!

sedikit berbagi cerita. ini cerita lamaaaa banget, hehe. langsung dahhh :)

jadi kan ceritanya dulu waktu kelas X ada open house tuh di Insan Cendekia. yaudah orang tua saya dateng tuh ke sana, trus ketemu saya deh. ya udah deh tuh..

nah ternyata pas lagi makan siang ada kejadian menarik! >.<
waktu saya lagi ngambil makan, pas balik saya liat ortu lagi ngobrol ama orang.
"lah itu sapa coba? perasaan saya di sini ga kenal sapasapa deh,' gitu pikir saya.

pas udah deket, jreng jreng!
lah ada si arham ama orang tuanya lagi ngobrol ama papa-mama.
ada apa sih? penasaran kan?

ternyata si arham itu SODARA saya. dan saya baru tau detik itu coba! ckckck
(jadi ceritanya mama saya sama mamanya si arham sepupuan)
kemana aja coba, udah berapa belas taun idup kaga kenal sodara sendiri, PARAH BANGET! hehe

Senin, 29 Agustus 2011

kisah lama sepasang sendal

semalem kan tarawih malem ke-29 tuh, jadi inget sebuah cerita beberapa tahun silam. kayanya waktu kelas 7 deh. pas banget malem ke-29 Ramadhan juga. jadi gini..

dulu kala, saya punya sendal warnanya BIRU (XD). klo ga salah merknya tuh "Nishikawa". boleh di beliin Bapak di kalibata. yah lumayan keren qo sendalnya.

trus kan waktu tarawih ke masjid Daarul Muttaqin saya pake sendalnya. klo ga salah pas malem ke-3, sendalnya ilang coba! saya caricari ga ada. padahal yakin klo tadi naronya di tempat itu. ampe masjidnya sepi saya tungguin, taapi ternyata tetep ga ada. pas udah sepi malah ada sepasang sendal tanpa pemilik. yaudah, daripada pulang bertelanjang kaki, akhirnya saya pake itu sendal jepit item yang udah tipis. -_-

"makasih Allah, saya masih dikasih sendal buat pulang. jalannya kan berbatu", pikir saya. heheh

hari demi hari terus berlanjut. dan saya terus tarawih di masjid itu pake sendal yang jadi ganti sendal saya yang ilang..

waktu tarawih malem ke-29, saya tarawih berdua sama Ica (ade yang berjarak 20 bulan sama saya). di tengah-tengah tarawih, tiba-tiba dia bilang, "Nel, itu masa ada sendal lo! beneran! sini dah!"

saya pun mengikutinya dan ternyata bener, ada sendal saya yang hilang tempo hari! yaudah, kita lanjutin deh tarawihnya. eh pas pulang sendalnya udah ga ada lagi coba! yah sendalnya ilang lagiiii T_T
udah gitu saya malah dimarahin lagi sama si ade, "ahh elu si! bukannya dipindahin tadi sendalnya! besok klo masih ada teraweh gue mao bawa plastik!"

besoknya, ternyata emang masih ada tarawih (alhamdulillah). yaudah kita berdua tarawih tuh di masjid itu lagi. pas di tengah tarawih, si Ica nyelinap. yaudah saya pasrah deh terserah dia. trus balik-balik yaa, dia udah bawa sendal saya di dalem kantong plastik coba! "nih sendal lo nih.. udah umpetin dulu, ntar pulangnya ikut gue," gitu katanya. saya nurut aja deh -.-

ade gue emang ajaib!!

pas pulang, saya ikutin tuh dia. ternyata ke tempat di mana dia nemu tuh sendal. ga lama terdengar percakapan dari dua orang cewe, yang jelas mereka beberapa tahun lebih tua dari saya deh.
"eh sendal gue mana ya?"

"emang tadi lo taro mana?"

saya dan si Ica mah ngeliatin aja sambil tersenyum simpul. dan percakapan pun berlanjut..

"tadi gue taro sini qo, beneran"

"eh itu sendal lo yang lama tau! pake aja deh!"

dan akhirnya mereka pun pulang..

halahh! itu dia 'maling' sendal saya. dan tau ga? ternyata ya, sendal lama yang mereka maksud itu sendal item tipis yang saya pake sebagai ganti sendal saya yang ilang! huahahahahahaha..
saya dan Ica pun pulang ke rumah sambil cekikikan. cuakakaak! kocak banget dah! klo rezeki mah ga kemana! :D